Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Perjalanan_Romansaku
![]() |
| Sepulang perjalanan. |
23 Maret 2024, Jalan Magelang-Jogja.
“Mas, mendung, pakai mobil wae mangkate, eman-eman awake”, kata Ibuku...
“Cul, panas banget cuacanya, badannya di jaga, jangan mentingin diri sendiri, sudah ada anak-anak sama istri”, kata Istriku...
Berikut adalah mantra yang selalu dilafadzkan oleh dua perempuan hebat kepadaku, ketika hendak berangkat mengais rezeki,,, hehe... Mohon Maaf sekali, bukan karena tak mau, pun juga sebenernya aku tahu bahwasanya rekomendasi kalian itu baik untukku dan kalian semua...
Namun terkadang aku ingin sendiri, bertemu dan berbincang mendalam dengan diriku... Momen yang kadang bisa aku temui kala setetes-duatetes air hujan membasahi jemari dan kedua alas pipiku (walau kadang merasuk juga perlahan menuju leher, punggung dan juga “inguinal bilateral” melalui celah yang bisa saja mereka dapati di beberapa bagian mantel yang mulai merekah), kala semilir angin dengan lembut menyambut wajahku (walau kadang membawa debu yang menempel bak memberi lahan bagi tumbuhnya jerawat), kala kehangatan sinar mentari merasuk di lapisan dermis dan epidermis kedua tanganku (walau pasti membuat melanin kegirangan karena bisa bersanding dengan UV, yang tentu saja membuat kulit hitamku menjadi lebih hitam)... semua itu hanya pengantar sebelum semuanya berlanjut menjerumus kedalam keintiman yang lebih mendalam...
Meluncur halus di punggungan jalan, terkadang sembari rintih mendengarkan lantunan musik yang mengalun pelan bak “backsound” yang akan semakin memperkuat perasaan yang saat itu bisa kutemui dalam diri di berbagai literasi kondisi...
Kali ini, sepertinya aku sedang berada di dalam kesedihan... Masih ingat, karena hari ini pekerjaanku bisa selesai lebih awal (pastinya dilanjutkan lagi malam dan subuh hari), aku melihat rona kemerahan di ufuk barat, menjadi pertanda bahwa berbuka semakin mendekat, diiringi dengan alunan musik nan lirih lembut dari salah satu band favorit (In Lovin Memory, Alter Bridge)... Tetiba kurasa ada yang sedikit mengganjal di pelupuk mata ini, basah, sebelum akhirnya lekas tersapu dengan kencangnya angin... Sejenak aku hendak berdzikir ataupun bercakap, namun hanya sampai kerongkongan saja, karena setelahnya sedikit tersedu, mengingat masa lalu yang telah aku lewati... Terus terang aku selalu berusaha untuk tidak mau mengingat, namun kecil di dalam lubuk hati selalu tidak mau melepas...
Dialah sesosok bayangan lalu, yang berkumpul menjadi satu, memadat hingga tidak bisa tertembus cahaya, mewarna menjadi hitam... demikian jika kita hanya fokus melihat bayangan tersebut dengan sudut pandang yang sempit (yang justru mungkin pilihan inilah yang dahulu kita lalui), namun, jika memungkin kita bisa mundur satu-dua langkah, untuk kemudian melihatnya lagi dalam perspektif yang lebih luas, memandangi dari berbagai sudut dan warna cara pandang yang berbeda, bisa saja bayangan tidak selalu berwarna hitam...
Hmmm... Memang di dalam masa lalu selalu ada penyesalan, namun di dalam masa depan selalu ada yang bisa diusahakan...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar